Tata laksana Koinfeksi HIV-Hepatitis C Prospek Terapi Sofosbuvir di Indonesia

 

 

PENGERTIAN

Virus hepatitis C adalah virus RNA dari keluarga Flaviviridae. Saat ini virus hepatitis C memiliki 7 genotipe dengan 67 subtipe, akan tetapi belum ada kesepakatan secara internasional sehingga tetap menggunakan pembagian 6 genotipe dengan 50 subtipe.(iv)

Koinfeksi HIV-VHC merupakan keadaan dimana suatu individu terinfeksi oleh virus HIV dan VHC. Sofosbuvir merupakan suatu direct acting antivirus (DAA) generasi kedua yang bekerja sebagai inhibitor NS5B terhadap virus hepatitis C.(v) Sofosbuvir merupakan obat antivirus oral pertama yang penggunaannya tidak berbasis regimen Peg-IFN, namun sampai saat ini sofosbuvir belum tersedia di Indonesia.

FAKTA : Sekitar 130-170 juta orang (2-3% penduduk dunia) terinfeksi virus hepatitis C (VHC) dan sekitar 40 juta orang terinfeksi oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV).(i) Pasien-pasien dengan hepatitis C kebanyakan tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi virus hepatitis C, hal ini dikarenakan karena hanya 10% kasus hepatitis C akut yang bergejala, sedangkan 90% sisanya tidak bergejala.(i) Virus hepatitis C berkontribusi terhadap 350.000 kematian setiap tahunnya, sebagian besar diakibatkan oleh sirosis hepatis dan karsinoma hepatoselular.(i) Pada tahun 2010 terdapat total 7 juta pasien dengan koinfeksi VHC dan HIV, sedangkan pada tahun 2013, sekitar 25% pasien HIV di Amerika Serikat mengalami koinfeksi VHC (ii) dan pada tahun 2004-2009 di Klinik Pokdiksus AIDS RSCM, dari 3613 pasien yang baru terdeteksi HIV didapatkan hasil 67,9% pasien HIV mempunyai koinfeksi VHC.(iii)

PENYEBAB

Metode penyebaran HIV dan VHC sebagian besar terjadi melalui hubungan seksual dan penggunaan narkoba suntik, penyebaran lainnya adalah melalui pemberian produk darah dan transmisi vertical dari ibu ke anak pada saat persalinan. Adanya kesamaan moda transmisi antara HIV dan VHC menyebabkan tingginya prevalensi koinfeksi HIV dan VHC. Transmisi VHC yang paling efisien adalah melalui darah, dengan kemampuan penyebaran 10 kali lebih efektif dibandingkan transmisi HIV. Hal ini menyebabkan tingginya angka koinfeksi HIV-VHC pada pengguna narkoba suntik, yaitu sekitar 90%.

TES

Sebelum memberikan terapi antivirus pada pasien dengan koinfeksi HIV-VHC, ada beberapa pemeriksaan yang perlu dilakukan. Pemeriksaan yang perlu dilakukan tersebut adalah ultrasonografi (USG) abdomen, transient elastography (fibroscan), anti HCV, kadar HCV RNA, genotipe VHC, kadar CD4, darah perifer lengkap dan tes fungsi hati yang meliputi SGOT, SGPT, bilirubin, gamma GT, alkalin fosfatase, kolinesterase dan waktu protrombin.

TATALAKSANA

Tujuan pemberian antivirus pada VHC adalah untuk mencegah munculnya komplikasi penyakit hati fibrosis, sirosis, karsinoma hepatoselular dan kematian, sedangkan target pemberian antivirus adalah pencapaian sustained virological response (SVR).(vi)

Pada pasien dengan koinfeksi HIV-VHC, antivirus untuk VHC diberikan apabila kondisi individu tersebut sudah stabil. Yang didefinisikan sebagai kondisi stabil ini adalah infeksi oportunistik sudah teratasi, sudah menerima obat antiretroviral (ARV) yang teratur, kadar CD4 > 350 sel/mm3dan pemeriksaan histologist hati menunjukkan fibrosis ≥ F2.(vi)

Setelah dinilai layak untuk mendapatkan antivirus untuk VHC, individu dengan koinfeksi HIV-VHC akan mendapatkan Peg-IFN dan ribavirin. Genotipe VHC akan menentukan dosis ribavirin dan durasi antivirus yang diberikan. Terdapat 2 jenis Peg-IFN, yaitu Peg-IFN α2a dan Peg-IFN α2b. Dosis Peg-IFN α2a adalah 180 µg sekali seminggu, dosis Peg-IFN α2b adalah 1,5 µg/kg berat badan sekali seminggu, sedangkan dosis Ribavirin adalah 800-1200 mg/hari bergantung pada genotipe VHC dan kadar HCV RNA.(vi)

Saat ini terdapat 2 strategi pemberian antivirus terhadap VHC, yaitu dual therapy (Peg-IFN, ribavirin) dan triple therapy (Peg-IFN, ribavirin, DAA). Saat ini sedang dikembangkan strategi pemberian antivirus tanpa Peg-IFN, yaitu dengan pemberian DAA tunggal atau kombinasi dengan atau tanpa pemberian Ribavirin. Salah satu DAA yang sedang dikembangkan saat ini adalah sofosbuvir yang merupakan inhibitor polymerase nukleotida yang secara spesifik bekerja sebagai inhibitor NS5B terhadap virus hepatitis C. Keuntungan sofosbuvir ini adalah merupakan agen antivirus yang poten, efek samping minimal, interaksi obat minimal, efektif terhadap semua genotipe, mempunyai barrier resistensi yang tinggi dan pemberiannya oral dengan dosis 400 mg/hari.(vii)

Permasalahan yang timbul pada individu dengan koinfeksi HIV-VHC adalah pencapaian SVR yang lebih rendah jika dibandingkan dengan monoinfeksi VHC saja. Oleh karena itu saat ini sedang dikembangkan obat-obat dari golongan DAA, salah satunya adalah sofosbuvir, dengan tujuan untuk meningkatkan pencapaian SVR.

Beberapa studi sudah dilakukan untuk melihat keefektifan sofosbuvir baik pada monoinfeksi VHC dan koinfeksi HIV-VHC. Studi COSMOS mencoba menilai keefektifan simeprevir (inhibitor NS3/4A) yang dikombinasi dengan sofosbuvir pada pasien monoinfeksi VHC yang belum pernah mendapatkan antivirus apapun dan pada pasien yang tidak respons dengan pemberian dual therapy. Hasilnya didapatkan bahwa kombinasi simeprevir dan sofosbuvir mempunyai pencapaian SVR yang tinggi dan kegagalan virologis yang rendah.(viii)

Studi Photon 1 & 2 mencoba menilai keefektifan sofosbuvir dan ribavirin pada pasien dengan koinfeksi HIV-VHC. Hasilnya didapatkan pencapaian SVR yang lebih dari 80% untuk semua genotipe VHC yang diberikan kombinasi sofosbuvir dan ribavirin.(ix, x)

Berdasarkan uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa koinfeksi HIV-VHC merupakan masalah kesehatan di Indonesia, pencapaian SVR yang lebih rendah pada koinfeksi HIV-VHC dibanding dengan monoinfeksi VHC dan sofosbuvir memiliki prospek dalam terapi koinfeksi HIV-VHC.

 

Referensi :

(i)           Averhoff FM, Glass N, Holtzman D. Global Burden of Hepatitis C : Considerations for Healthcare Providers in the United States. Clin Infect Dis. 2012; 55 Suppl 1:S10-5.

(ii)         National Center for HIV/AIDS VH, STD,and TB Prevention, . HIV and Viral Hepatitis. [Fact Sheet] USA: Centers for Disease Control and Prevention; 2013 [updated 17 Mei 2013; cited 2013 30 September 2013].

(iii)       Yunihastuti E, Djoerban. Z, Djauzi S, Gani RA. Coinfection of hepatis B and C among HIV infected patients : a database of HIV Clinic Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta 2004-2009. 2011.

(iv)       Smith DB, Bukh J, Kuiken C, Muerhoff AS, Rice CM, Stapleton JT, Simmonds P. Expanded classification of hepatitis C virus into 7 genotypes and 67 subtypes : updated criteria and genotype assignment web resource. 2014; 59(1):318-27.

(v)         Asselah T, Marcellin P. Direct acting antivirals for the treatment of chronic hepatitis C: one pill a day for tomorrow. Liver Int. 2012;32:88-102.

(vi)       Gani RA, Hasan I, Sanityoso A, Lesmana CRA, Waspodo AS, Siregar L, et al. Konsensus Nasional Penatalaksanaan Hepatitis C di Indonesia. Jakarta : Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia; 2014.

(vii)     Alberti A, Piovesan S. Digestive and Liver Disease 46 (2024) S174-8.

(viii)   Lawitz E, et al. Lancet. 2014;July 28

(ix)       Sulkowski MS, et al. JAMA

(x)         Molina JM, et al.  IAC. 2014